Ketika pulang ayah lebih banyak diam. Kami berhenti di sebuah warung dan membeli keperluan untuk besak. Kata ayah, dia juga harus membelikan aku celana kolor sampai lutut, agar aku bisa leluasa. Aku senang, karena aku besaok masih harus ikut ke sawah. Tapi kenapa aku harus pakai celana kolor sampai lutut? Bukankah itu, aku tak boleh lagi pakai rok, agar aku bisa memancing ayah? AKu diam saja dan kubiarkan saja apa yang terjadsi besaok. Tapi sekali lagi tekadku sudah bulat, aku harus menaklukkan ayahku dan ayah pasti akan menyetubuhiku.
Besok paginya, seperti biasa aku membawa beras dan lauk pauk. Selebihnya sudah tersedia di gubuk. AKu nauk ke boncengan sepeda motr ayah dan duduk denga sopan. Begitu memasuki tekongan, walau jalan tidak rusak, aku sudah memeluk pingang ayah dan merapatkan dadaku ke punggungnya. Ayah tenang saja membawa sepeda motornya. Saat jal;an berlobang aku sengaja menjatuhkan tanganku ke bawah dan tubuhku oleh, hingga ayah agak kewalahan membawa sepeda motor. ...
Baca cerita selanjutnya, dapatkan akses sekarang juga!
Beli keahlian
Akses dengan SMS
Tulis cerita
Dapatkan akses sepenuh dalam laman kami dari $15 sebulan! Akses sepenuh kepada semua cerita dan wayang gambar di arkib wayang kami yang besar!
Anda mempunyai kod promosi? Gunalah di sini!
Taip kod promo pada kotak di bawah.
Tuliskan cerita anda dan mendapat keahlian percuma untuk 24 jam
Pandangan ahli
Anda perlu login untuk memaparkan pandangan anda