Seseorang mengetuk pintu ruang pribadiku. Ah, selalu saja begitu, kenapa mereka tidak datang di saat aku sedang senggang atau bosan menanti? Tapi, yah, itulah manusia, mereka selalu saja ceroboh dan tidak berusaha berhati-hati tentang apa yang bisa terjadi di masa depan, dan terus saja menganggap bahwa masa lalu adalah gambaran masa depan. "Tunggu sebentar!" teriakku ketus sambil mengeringkan tubuhku yang baru saja kusegarkan dengan beberapa tetes air. Ketukan itu terus saja terdengar. "Iya, iya, lima menit lagi!" teriakku lagi, mencoba membuat orang itu mengerti. Ketukan itu terus saja terdengar, membuatku tidak bisa berkonsentrasi mendandani diri di depan cermin di sudut ruang ini, dimana aku selalu melenggok mengagumi keindahanku. Keindahan yang tidak dimiliki manusia ataupun bidadari manapun.
Hmm, sejenak kuintip melalui lubang kecil di pintu ruang pribadiku, ah, ternyata seorang pria muda dua puluhan tahun. Aha, muncul rasa isengku. Sejenak aku berdiri di depan cermin untuk...
Baca cerita selanjutnya, dapatkan akses sekarang juga!
Beli keahlian
Akses dengan SMS
Tulis cerita
Dapatkan akses sepenuh dalam laman kami dari $15 sebulan! Akses sepenuh kepada semua cerita dan wayang gambar di arkib wayang kami yang besar!
Anda mempunyai kod promosi? Gunalah di sini!
Taip kod promo pada kotak di bawah.
Tuliskan cerita anda dan mendapat keahlian percuma untuk 24 jam
Pandangan ahli
Anda perlu login untuk memaparkan pandangan anda