Suparman melihat gadis cantik itu termenung. Matanya terlihat berkaca-kaca, tapi tak setetes pun airmatanya yang menetes keluar. Suparman bukanlah orang yang bodoh. Dia sudah bisa menduga apa yang terjadi dengan gadis itu barusan. Tapi dia melihat gadis itu sungguh luar biasa. Dengan keras hati, Erlina bisa menahan agar tak menangis. Suparman pun merasa simpati pada gadis itu.
“Sebaiknya nona mandi dulu. Di sebelah ada kamar mandi yang bisa nona pakai. Saya akan turun ke ruang tamu. Kalo nona perlu apapun, nona bisa panggil saya. Silahkan. Saya turun dulu.”, kata Suparman sambil beranjak meninggalkan ruangan itu. Erlina menatap kepergian pria setengah baya itu. Terdengar langkah kaki pria itu yang menuruni tangga. Erlina pun bangkit lalu memunguti pakaiannya ternyata yang sudah tergantung di sandaran kursi di kamar itu lengkap dengan pistolnya yang diletakkan di meja. Kemudian ia pun mencari kamar mandi yang ternyata berada di sebelah kamar tersebut.
* * * * * * * * ** ...
Baca cerita selanjutnya, dapatkan akses sekarang juga!
Beli keahlian
Akses dengan SMS
Tulis cerita
Dapatkan akses sepenuh dalam laman kami dari $15 sebulan! Akses sepenuh kepada semua cerita dan wayang gambar di arkib wayang kami yang besar!
Anda mempunyai kod promosi? Gunalah di sini!
Taip kod promo pada kotak di bawah.
Tuliskan cerita anda dan mendapat keahlian percuma untuk 24 jam
Pandangan ahli
Anda perlu login untuk memaparkan pandangan anda