Sejak suamiku meninggal karena sakit pada akhir Oktober 1994, aku tinggal di rumah sendirian. Kedua anak kami, Gatot dan Ayu, telah dua tahun ini bekerja di Jakarta setelah lulus SMA- nya. Sewaktu ayahnya meninggal, praktis mereka hanya satu minggu tinggal di rumah menemaniku. Setelah itu mereka harus kembali bekerja karena izin cutinya habis. Ya, bagaimana pun kesedihan tak boleh berlarut-larut. Satu minggu cukuplah sudah menangisi kepergian orang yang sangat kami cintai itu. Selanjutnya kami kembali harus berjuang mempertahankan hidup, mengisi perut. Kami tergolong keluarga kurang mampu. Suamiku yang bekerja sebagai makelar tidak setiap hari membawa hasil. Ia jadi makelar apa saja. Dari sepeda motor, mobil, rumah, tanah bahkan kalau perlu jual sepeda sekalipun. Prinsipnya, yang penting halal dan menghasilkan. Aku kagum oleh semangat kerja dan keuletannya. Dan hasilnya tidak mengecewakan, terbukti dengan berhasilnya kedua an...
Baca cerita selanjutnya, dapatkan akses sekarang juga!
Beli keahlian
Akses dengan SMS
Tulis cerita
Dapatkan akses sepenuh dalam laman kami dari $15 sebulan! Akses sepenuh kepada semua cerita dan wayang gambar di arkib wayang kami yang besar!
Anda mempunyai kod promosi? Gunalah di sini!
Taip kod promo pada kotak di bawah.
Tuliskan cerita anda dan mendapat keahlian percuma untuk 24 jam
Pandangan ahli
Anda perlu login untuk memaparkan pandangan anda