Sebelum pewarna itu kering benar, cepat-cepat tangan kubersihkan dengan lap yang juga kubawa di dalam kantung daster. Lalu punggung Pak Kosim pun kutiup-tiup kecil supaya cepat kering. Sambil menunggu kering benar, aku berpindah memijat kakinya. "Berbalik, Pak," bisikku lagi sesudah kuperkirakan pewarna di punggungnya kering. Ia pun menuruti perintahku. Kupijat sebentar di atas pusarnya, lalu berpindah ke pahanya. Aku tahu ia mulai terangsang ketika kulihat gerakan-gerakan di balik celana dalamnya.
"Kita main-main sebentar, Pak," bisikku sambil membawa kedua tangannya ke atas kepala. Kuambil tali sepatu nilon, lalu kuikat kedua tangan itu ke tiang ranjang besi tempat kami berada. Kedua tangan itu sekarang terpentang. Ia pasti tidak sanggup melepaskan dirinya sendiri tanpa bantuan.
Kuraba dadanya yang tipis. Rabaanku turun dan terus turun. Ia menggelinjang ketika celananya kuperosotkan. Sebatang benda tumpul nampak bergoyang-goyang. Tapi aku tidak terusik. Kusiap...
Baca cerita selanjutnya, dapatkan akses sekarang juga!
Beli keahlian
Akses dengan SMS
Tulis cerita
Dapatkan akses sepenuh dalam laman kami dari $15 sebulan! Akses sepenuh kepada semua cerita dan wayang gambar di arkib wayang kami yang besar!
Anda mempunyai kod promosi? Gunalah di sini!
Taip kod promo pada kotak di bawah.
Tuliskan cerita anda dan mendapat keahlian percuma untuk 24 jam
Pandangan ahli
Anda perlu login untuk memaparkan pandangan anda