Mulanya, aku geli mendengarnya. Apa iya, perempuan seusiaku, pantas bercinta dengan brondong? Apa sih nikmatnya? Apa hebatnya? Apa aku gak malu berjalan dengan laki-laki yang pantas jadi teman anakku? Saat itu kukatakan kepada Tuty, dia tertawa ngakak. Kamu ini kampungan, katanya. Coba dong, biar tahu ranya selangit, sambungnya. Lama-lama masalah itu jadi pikiranku dan entah kenapa aku ingin mencobanya. "Benar kamu sudah siap mau mencobanya?" kata Tuty saat aku mengutarakan keinginanku. Kupikir, aku sudah janda beranak dua. Yang tua anakku sudah kelas 2 SMA dan si bungsu kelas dua SMP. Sementara aku janda, sementara Tuty masih punya suami dan anaknya yang sulung sudah semester lima dan yang ke dua semester 1 dan si bungsu SMA.
MInggu pagi itu, aku dan Tuty meniki bobilnya ke puncak. Sembari nyetir, Tuty menghubungi brondongnya. Namanya Rudy. Nama mereka mirip. Tuty dan Rudy. Di tempat tertentu, Tuty menghentikan mobilnya. Waqjahnya tetapm enghadap ke depan dan sesekali melirik k...
Baca cerita selanjutnya, dapatkan akses sekarang juga!
Beli keahlian
Akses dengan SMS
Tulis cerita
Dapatkan akses sepenuh dalam laman kami dari $15 sebulan! Akses sepenuh kepada semua cerita dan wayang gambar di arkib wayang kami yang besar!
Anda mempunyai kod promosi? Gunalah di sini!
Taip kod promo pada kotak di bawah.
Tuliskan cerita anda dan mendapat keahlian percuma untuk 24 jam
Pandangan ahli
Anda perlu login untuk memaparkan pandangan anda