Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya “kanguru”. Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.
Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet, tiba...
Baca cerita selanjutnya, dapatkan akses sekarang juga!
Beli keahlian
Akses dengan SMS
Tulis cerita
Dapatkan akses sepenuh dalam laman kami dari $15 sebulan! Akses sepenuh kepada semua cerita dan wayang gambar di arkib wayang kami yang besar!
Anda mempunyai kod promosi? Gunalah di sini!
Taip kod promo pada kotak di bawah.
Tuliskan cerita anda dan mendapat keahlian percuma untuk 24 jam
Intan, si penggagas ide untuk mendapatkan liburan yang berbeda dibandingkan liburan-liburan sebelumnya masih kebingungan untuk memilih pekerjaan yang cocok. Setelah berpikir cukup lama, Intan mengamati lauk yang sedang dimakannya. Ikan, pekerjaan kasar yang dipilihnya harus berhubungan dengan lauk yang paling ia sukai itu, pikir Intan. Jika berpikir tentang ikan, pastilah langsung kepikiran nelayan. Intan pun sudah memutuskan. Intan mengepak beberapa helai pakaiannya dan yang paling penting adalah uang dan kartu atm. Intan pergi ke daerah pantai yang pernah ia datangi. Waktu itu ia melihat beberapa nelayan di pantai tersebut. Tapi, Intan harus mencari nelayan dulu yang mau menerimanya untuk tinggal bersama. Intan pergi ke daerah tersebut. Tak lama kemudian, Intan telah sampai.
“permisi, Pak..”.
“iya, neng ?”.
“rumah Pak RT di mana yaa ?”.
“oh di sana, neng…neng lurus aja..abis itu belok kanan..”.
“oh..makasih yaa, Pak..”.
“iya, neng..”. Intan turun dari mobilnya saat sudah sampai di depan rumah yang di tunjukkan bapak tadi.
“tok tok !!”.
“permisi !!”. Pintu pun terbuka, seorang ibu-ibu yang membukanya.
“permisi, Bu..saya mau ketemu Pak RT..”.
“adek ini siapa ya ?”.
“nama saya Intan, Bu..”.
“saya Endang, istrinya Solihin, Pak RT di sini, dek Intan ada keperluan apa ya ?”. Keduanya pun bersalaman.
“begini, Bu…saya lagi neliti kehidupan nelayan buat jadi bahan skripsi saya…saya mau minta izin ke Pak RT..”.
“oh begitu, dek Intan udah ada tempat nginap di rumah warga di sekitar sini ?”.
“itu dia, Bu..saya belum ada..makanya saya mau izin ke Pak RT sekalian minta tolong di cariin warga di sekitar sini..boleh, Bu ?”.
“oh boleh boleh, dek..ayo dek Intan masuk dulu..langsung ngomong sama bapak..”.
“iya, Bu..”. Tak lama kemudian, Endang keluar dengan seorang bapak-bapak.
“ini dek Intan ya ?”.
“iya, Pak..saya Intan..”.
“ada perlu apa ke sini ?”. Intan pun menjelaskan seperti apa yang dijelaskan ke Endang.
Meskipun Intan berbohong, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya mengalir dengan lancar.
“hmm…begitu ya, Dek..adek tunggu di sini sebentar..saya mau tanya warga yang mau dulu..”.
“maaf, Pak…saya jadi gak enak ngerepotin…”.
“gak apa-apa, Dek Intan…kalo gitu, saya pergi dulu yaa..”. Sambil menunggu, Intan mengobrol dengan Endang di ruang tamu rumah Endang. Tak lama kemudian, Solihin sudah kembali.
“Dek Intan, ayo ikut Bapak..”.
“iya, Pak..Bu Endang, saya pergi dulu..”. Intan mengikuti Solihin yang berjalan melewati rumah-rumah warga yang sederhana. Hampir semua warganya berprofesi sebagai nelayan sehingga rumah-rumah yang ada hampir sama.
“nah, Dek Intan..ini namanya bapak Supri..”.
“Intan..”, ujar Intan sambil menyalami Supri dan tersenyum.
“Supri..”
“nah ini istrinya Pak Supri..namanya Ibu Juju..”.
“Intan..”.
“Aminah..”.
“nah, Pak Supri..ini Intan yang tadi saya bicarakan..gimana ? boleh Dek Intan tinggal disini, Pak ?”.
“boleh..”.
“kalau ibu Juju?”.
“berapa lama Nak Intan mau tinggal?”.
“hmm..mungkin sekitar 1 minggu..paling lama mungkin 2 minggu..boleh ya, Bu, Pak ? saya janji deh bakal bantu-bantu n’ gak nyusahin..”, rayu Intan.
“iya, boleh, Nak Intan..”.
“makasih banget Bu Juju..”, ujar Intan, memeluk Juju.
“kalo Bapak ?”.
“iyaa, boleh, neng..”.
“makasih, Pak Supri..”. Intan hanya menyalami Supri.
“kalo begitu..besok saya mulai tinggal di sini..makasih ya Pak Solihin udah bantu saya..”.
“iya, Dek Intan…saya seneng bisa bantu…”.
Intan pun mengobrol dengan Solihin, Juju, dan Supri. Layaknya orang yang benar-benar sedang meneliti, Intan kadang melayangkan pertanyaan ke Juju dan Supri. Setelah rasanya cukup mengakrabkan diri kepada keluarga nelayan itu, Intan pun pamit untuk pulang karena baru besok dia akan pindah. Rumah Supri benar-benar sederhana layaknya rumah-rumah nelayan seperti umumnya, namun bukan Intan namanya jika hanya gara-gara itu dia jadi mengurungkan niatnya. Gadis manis itu malah bersemangat dan jadi tak sabar, ingin tinggal bersama keluarga yang sederhana. Keesokan harinya pun, Intan kembali dengan sudah membawa kopernya.
“tok tok”.
“eh Nak Intan..ayo masuk..”, suruh Juju.
“Pak Supri kemana, Bu ?”.
“lagi jemput Didit sama Indah di sekolah..”.
“oh, anak-anak Ibu biasa pulang jam segini ya ?”.
“iya, nak…ayo, Nak diminum dulu..”.
“aduh si Ibu..pake repot-repot..makasih ya, Bu..”.
“Nak Intan..sini ikut Ibu..”.
“iya, Bu..”. Intan mengikuti Juju masuk ke kamar yang hanya tertutup dengan kain saja, tak ada pintu.
“nah, Nak Intan nanti tidur di sini bareng Ibu sama Indah..”.
“lho ? Bapak Supri nanti tidur dimana ?”.
“nanti biar Bapak tidur sama Didit..”.
“tapi Bapak gak apa-apa, Bu ?”.
“gak apa-apa…Ibu udah ngomong sama Bapak..”.
“oh..makasih yaa, Bu..”.
“baju-bajunya Nak Intan taruh di lemari ini aja..”.
“iyaa, Bu..”.
Intan memasukkan baju-bajunya yang ada di koper ke dalam lemari. Juju mengajak Intan keliling rumah, menunjukkan dimana dapur dan kamar mandinya. Intan benar-benar prihatin, lantai dapurnya dari pasir. Kamar mandinya juga memprihatinkan, hanya seperti sebuah bilik. Tak lama kemudian, Supri, Indah, dan Didit pulang dari sekolah.
“kakak ini siapa, Bu ?”, tanya Indah.
“mm..ini..”, Juju kebingungan bagaimana menjelaskan ke anaknya yang masih kecil itu.
“kakak ini temen adiknya Ibu..”.
“terus kakak di sini mau apa ?”.
“ya kakak bantu-bantu aja di sini…”.
“oh…”.
“udah sana..ganti seragamnya…ayo kamu juga, Dit..”.
“iyaa, Bu..”. Indah dan Didit pun masuk ke dalam kamar dan langsung keluar lagi dengan pakaian yang agak lusuh. Didit pun langsung keluar untuk bermain. Sementara Indah penasaran dengan orang asing yang ada di rumahnya.
Supri dan Juju tersenyum, belum ada sehari tapi Intan sudah membantu anak mereka mengerjakan pr. Intan kagum dengan Indah, cuma sekali di ajari, dia langsung bisa. Pasti gedenya pinter nih anak, pikir Intan. Secara diam-diam, Supri memperhatikan Intan. Sebagai lelaki normal, Supri tertarik dengan Intan. Dibandingkan istrinya, Intan jauh lebih cantik dan manis dan tentu tubuh Intan lebih menggiurkan daripada Juju. Tubuh gadis muda itu terlihat begitu padat dan montok, pantatnya sekal, dan kedua kemasan susunya juga sangat menggiurkan, tak heran kalau Supri sering salah tingkah jika berhadap-hadapan dengan Intan sebab pikiran-pikiran jorok tentang Intan selalu mampir ke otak Supri. Tapi, Supri tidak tahu sifat asli Intan, si gadis manis yang terlihat kalem itu. Dalam waktu sehari saja, Intan bisa mengakrabkan diri dengan keluarga barunya. Didit juga sudah lumayan akrab dengan Intan. Di antara 3 temannya yang lain, memang Intan yang paling jago bersosialisasi dengan orang lain. Bisa dibilang, Intan adalah cewek yang easy going dan asik.
Pembaca "Pesta sex tiga wanita satu lelaki" juga telah membaca
Pandangan ahli
Anda perlu login untuk memaparkan pandangan anda